Terhadap hal ini, Bobby Pakh mengaku bahwa keluarga merasa keberatan karena mereka menilai bahwa degradasi yang dilakukan SKO tidak sesuai mekanisme.
“Dengan adanya pemberhentian ini, kita merasa bahwa harusnya dari Cabor yang menyampaikan ini ke orang tua. Karena Cabor yang menitipkan anak ini di SKO. Sehingga mekanismenya itu harus seperti itu. Bukan langsung kepala sekolah langsung sampaikan ini di orang tua,” kata Bobby Pakh kepada wartawan di Kantor Gubernur NTT.
Selain menyoroti mekanisme, Bobby Pakh juga menyoroti kebijakan Kepala Sekolah SKO. Menurutnya, harusnya atlet-atlet berprestasi seperti Nando dipertahankan, guna mempersiapkan bibit-bibit unggul untuk PON 2028.
“Kalau dia ada salah, atau mengalami kekurangan secara akademik, harusnya ini menjadi tugas sekolah untuk memperbaiki yang kurang-kurang. Bukan mengeluarkan dia,” ungkapnya.
Karena itu, lewat pengaduan di Meja Rakyat, Bobby Pakh meminta kebijaksanaan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, agar Nando bisa kembali bersekolah di SKO.



Tinggalkan Balasan