Terhadap hal tersebut, Don Putra Gotama menegaskan, pemerintah Provinsi NTT dengan perangkat daerah yang sudah menguasai daerah bisa langsung melakukan survei, dan membuat pemetaan lahan, agar bisa dikembangkan untuk peternakan, perkebunan, kehutanan, dan pengembangan sektor lainnya.

“NTT bukan daerah yang kurang, tapi NTT harusnya menjadi daerah yang kaya, karena punya sumber daya kelautan yang besar. Kekayaan laut NTT yang kepulauan ini belum dimaksimalkan dengan pendapatan yang pasti. Harus turunkan pengusaha yang sehat dan profesional,” ungkapnya.

Selain kekayaan laut, ia juga menyarankan agar pemerintah Provinsi NTT bisa mendatangkan investor yang profesional untuk merubah air laut menjadi air tawar. Hal yang sama, sudah dilakukan oleh Dubai dan Singapura. Keduanya, negara yang kurang air, tapi tidak kekurangan air. Semua bisa, karena teknologi, sehingga manfaatnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat dan negara.

Terkait perizinan, ia mengambil contoh negara maju seperti China dan Vietnam, di mana investor yang datang cukup membawa dana dan teknologi, sedangkan lahan, izin, dan tenaga kerja disiapkan oleh pemerintah setempat.

Previlege atau kemudahan-kemudahan dan fasilitas sangat perlu diberikan kepada para investor dan mitra kerja sama, karena saat mulai membangun dan belum menghasilkan, itu adalah suatu perjuangan yang cukup berat,” ungkapnya.

Komisaris PT. Subasuka Go Yohanes Don Putra Gotama berharap, apabila pihaknya berusaha dengan investasi yang benar, dan pembayaran kontribusi yang sehat, maka ia berharap bisa mendapat regulasi yang pasti, untuk diberikan prioritas pertama, dapat memperpanjang masa kerja sama bersama pemerintah.

“Kami juga berharap diizinkan untuk menambah investasi di atas tanah atau lahan tersebut, untuk bisnis yang legal. Sebagai putra daerah, kami sangat berharap bisa terus dilibatkan dalam pembangunan daerah, dengan diikutsertakan dalam kerja sama pemanfaatan lahan pemerintah. Sebagai warga NTT, tentu kami punya kecintaan kepada Provinsi NTT, harus bekerja dan melayani lebih sungguh, karena Tuhan sudah melayani lebih dulu,” pungkasnya. (*)