“Kami berkomitmen untuk selalu mengedepankan pendekatan yang transparan dan partisipatif. Masyarakat tidak hanya diinformasikan, tapi juga dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan,” jelas Bondan Gustaman, yang memimpin sosialisasi ini.

Pendekatan ini menggarisbawahi pentingnya dialog dua arah antara PLN dan masyarakat untuk memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil telah melalui pertimbangan matang dan sesuai dengan harapan komunitas setempat.

Penghormatan terhadap Adat dan Nilai Kearifan Lokal

Tidak hanya berfokus pada transparansi, PLN juga menaruh perhatian besar pada penghormatan terhadap adat dan kearifan lokal. Dalam konteks pembangunan di Poco Leok, musyawarah adat atau Lonto Leok menjadi bagian integral dari proses konsultasi dengan masyarakat adat. Lonto Leok merupakan forum tradisional di Manggarai yang digunakan untuk berdiskusi mengenai hal-hal penting yang melibatkan kepentingan bersama, termasuk dalam hal ini, pembangunan proyek PLTP Ulumbu.

Dalam musyawarah adat yang diadakan di Gendang Rebak pada 14 April 2024, PLN berdiskusi secara intensif dengan pemuka adat dan masyarakat setempat terkait dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari proyek tersebut. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan bahwa masyarakat adat memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan PLTP, dengan syarat bahwa PLN harus terus menghormati hak-hak adat dan memberikan dampak positif yang nyata bagi kehidupan masyarakat setempat.