Dia menambahkan bahwa, dengan cara itu, keterlibatan  perempuan  dalam politik  mendapat pengakuan. Perempuan harus berani bersuara walaupun  banyak fitnah maupun dicemooh dan berani menjadi pemimpin.

Pembicara kedua Grace berkomentar tentang situasi  perempuan di NTT  saat ini. Menurutnya, perempuan NTT menghadapi persoalan  lama yaitu sistem patriarki. 

“Di NTT, perempuan yang menenun dan perempuan  yang bertani adalah perempuan  yang memiliki perjuangan.”

Namun, tutur Grace,dalam bidang  hukum dan politik, hak legal perempuan untuk mencegahnya dari  kekerasan  masih kurang. Ruang politik juga tidak secara luas melibatkan perempuan. Walaupun 30% kuota untuk perempuan di DPR, namun sistem kita masih  patriarkat. 

Selain itu, akses perempuan  terhadap  sumber  daya alam juga sangat terbatas. Staf WAHLI ini menegaskan, tidak ada keadilan gender tanpa keadilan ekologis.

Pembicara ketiga adalah Pater Peter Tan, SVD. Menurut dosen filsafat Unwira ini,  perempuan  masuk ke ruang publik melalui beberapa cara.

Pertama, melalui spoken words yaitu kemampuan berbicara dan mempengaruhi publik secara lisan. Kedua, melalui written words yaitu kemampuan menulis. Kartini  pada masanya menerobos ke ruang publik melalui kemampuan menulis surat. Namun, Pater Peter menambahkan bahwa ada cara ketiga perempuan bisa masuk ke ruang publik yaitu melalui tubuhnya. Dia mengangkat kasus di Besipae dan beberapa tempat di Flores di mana para perempuan menelanjangkan pakaian mereka untuk melawan korporasi. “Di situ tubuh perempuan bukan tubuh seksual, melainkan tubuh politik,” tuturnya.

Dalam sesi diskusi, seorang dosen Ilmu Pemerintahan, Yohana Fransiska Medho, memberikan tanggapan. Menurutnya, diskriminasi dan kekerasan berbasis gender sulit hilang sebab telah melekat dalam struktur budaya dan ideologi patriarki yang mengakar kuat dalam masyarakat dari generasi ke generasi.

Apalagi struktur patriarki sering dilegitimasi oleh negara, budaya, dan agama. Karena itu, dia mengajak seluruh peserta dan perempuan yang hadir untuk  berani mematahkan stigma buruk terhadap perempuan, berani menentukan pilihan hidup sendiri, dan bergandengan tangan memperjuangkan hak dan keadilan bagi perempuan.