Acara makan adat yang dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak, juga dihadiri oleh tamu undangan. (Foto: Ama Beding)

Makan adat dalam konteks orang Ndao, dilaksanakan di atas sebuah tikar yang panjang. Kedua belah pihak akan duduk bersilah, dan di atas tikar disediakan sebuah nyiru kecil yang berisi daging babi, nasi, pisau, dan kuah daging yang ada di dalam tempurung atau haik.

“Kuah daging itu tidak boleh dicampur apapun. Daging itu tidak boleh dicuci, karena kandungan darah yang melekat pada daging itu, nilai gizi dan aroma kuahnya berbeda. Dan memang rasa kuahnya berbeda,” ujar Dr. Daud Ludji.

Nilai kedua adalah, keluarga wanita ingin menyampaikan ke keluarga pria bahwa dalam kebiasaan orang Ndao, pesta itu identik dengan upacara makan daging dalam jumlah yang banyak, dan biasanya ada tambahan alkohol sebagai pelengkap jamuan makan adat.

“Ada satu kelebihan orang Ndao, bahwa daging yang dimakan di tempat peminangan akan dihantar ke rumah oleh orang yang berbeda, dan tidak akan tertukar. Jadi sebelum orang sampai di rumah, dagingnya sudah sampai di rumah duluan. Ini sebuah kearifan lokal yang dimiliki orang Ndao,” ucapnya.