Padahal, sejatinya pertanian merupakan kekuatan masa depan Kabupaten Manggarai apabila dikelola dengan baik dari hulu sampai hilir. Tidak ada yang tidak mungkin. Sehingga suami dari Bernadette Meyliani itu mendorong perlunya revitalisasi pertanian di desa-desa. Ia bersikeras agar mindset revitalisasi pertanian dibuat demi menyadarkan para petani bahwa pertanian itu vital, bahwa kita berasal dan hidup dari pertanian.

Victor Selamet memang terkenal dengan sosok prinsipil yang selalu memegang teguh komitmen sebagai nilai moral dalam kehidupannya. Bicaranya terukur dan Ia selalu melakukan apa yang ia rencanakan. Berkat kepiawaian Victor mengolah Pertanian  Agrobisnis Terintegrasi di Manggarai, kini namanya menjadi salah satu model di majalah Kementerian Pertanian.

Saat ini Victor menjadi penyuplai ribuan ekor anak babi ke seluruh daerah di Flores dan menjual pakan babi hasil produksinya sendiri. Ia juga memiliki dua Restoran Se’i Babi, yaitu di Pela, Kecamatan Satarmese Utara, Manggarai dan di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Setiap tahun ia membeli 100 sampai 150 ton jagung dari petani di Manggarai sebagai bahan baku pembuatan pakan ternak babi. Namun, kadang ia membeli bahan baku dari Bima dan Makasar karena permintaanya  tidak mampu dipenuhi oleh petani di Manggarai. Melihat peluang strategis harga jagung akhir-akhir ini, Victor Selamet kini mendorong penanaman jagung bagi para petani Manggarai.

Pertanian Sebagai Basic, Karier, dan Bisnis

Menjadi seorang petani profesional merupakan cita-cita Victor Selamet sejak remaja. Cita-cita itu mendorongnya kuliah di Akademi Farming Semarang dan tamat di tahun 1981. Setelah tamat dari Akademi Farming Malang, Victor Selamet mengikuti seleksi di Kementerian Pertanian Repuplik Indonesia. Mukjizat itu benar-benar terjadi,  Victor Selamet diterima dan ditempatkan di Kupang.

Padahal CEO PT Rembu Tedeng Trinusa itu tidak punya jaringan di kementerian waktu itu dan banyak yang menyangka ia adalah mahasiswa tamatan IPB Bogor. Jadi Victor benar-benar menunjukan kualitas diri untuk berkompetisi sehingga diterima di Kementerian Pertanian Republik Indonesia waktu itu.