Marthen menjelaskan, ketika dia tiba di Sabu, semua tambak garam sudah hancur berantakan. Bahkan garam yang ada di dalam gudang juga sudah terancam mencair jika hujan tiba lantaran gudang-gudang tempat penyimpanan garam hanya tinggal beratap langit. Hatinya nelangsa melihat mimpi nyata yang telah berantakan di hadapannya. Banyak masyarakat yang datang menyampaikan keluhannya, namun Marthen Dira Tome menyadari bahwa dirinya bukan lagi bupati yang memiliki kekuasaan dan kewenangan untuk menjawab dengan cepat setiap keluhan maupun harapan masyarakat.
“Bukan hanya tambak garam yang berantakan. Pabrik AMDK juga demikian. Biang botol atau privom dan tumpukan air hasil produksi tahun 2016 yang sudah berserakan. Itu semua kita adakan dengan biaya yang besar, sudah tidak bisa digunakan lagi. Demikian juga dengan pabrik rumput laut yang tidak lagi beroperasi. Mesin-mesin sudah karatan. Semuanya dalam kondisi yang benar-benar memprihatinkan. Kalau alasan yang dibangun bahwa tambak garam rusak dari badai Seroja maka pada tahun 2017 hingga 2020 masih baik dan berproduksi. Apalagi tahun 2016 dan 2017 itu produksi garam kita lagi bagus. Saya juga tidak tahu berapa banyak uang yang masuk dari penjualan garam,” kata Marthen.





Tinggalkan Balasan