“Kita selalu membawa masalah kekerasan seksual itu dalam budaya kita yang menyelesaikan itu dengan cara keluarga saja. Jadi tidak ada efek jera untuk pelaku. Tidak ada tindak lanjutnya. Pelaku-pelaku lain yang berpotensi membaca itu kemudian berpikir bahwa tidak dibawa ke ranah hukum, berarti saya bisa dong melakukan hal itu,” terang Ebi.
Meski demikian, ia mengharapkan agar semua pihak bahu membahu menyelesaikan persoalan tersebut supaya kasus-kasus serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.
“Dan saya berharap selain kita miliki itu tadi saya mengajak pemerintah, para tokoh agama, tokoh masyarakat untuk bergandengan tangan, sama-sama kita meminimalisir. Kalau kita mau menghilangkan itu maka kita harus bergandengan tangan,” harapnya.
Sedangkan terhadap keluarga dan masyarakat yang hidup berdampingan dengan korban kekerasan seksual, diharapkan agar memahami kondisi korban dengan baik.
“Kadang kita merasa ‘victim blaming’ ya. Jadi jauhi kata-kata yang menyakiti korban itu sendiri. Kita mulai dengan memahami apa yang sedang terjadi, kondisi dari korban itu. Kemudian butuh kepekaan dan perhatian dari lingkungan terdekat. Kita harus bisa pahami ketika korban itu punya penyimpangan perilaku misalnya saja dia tiba-tiba menarik diri dari lingkungan, mungkin tiba-tiba dia ‘panic attack’, misalnya saja dia tiba-tiba lari ke dalam kamar dan menutup kamar. Dibawah selimut dia matikan lampu dan apa segala macam,” jelasnya.



Tinggalkan Balasan