Ia kemudian memaparkan tentang kondisi yang secara tidak langsung ikut memupuk bertambahnya jumlah kekerasan seksual di Manggarai. Salah satunya yakni budaya patriarki yang memberi kuasa lebih kepada kaum laki-laki.

“Budaya itu yang akhirnya perempuan menjadi sangat lemah, perempuan tidak bisa berbuat apa-apa dengan tindakan yang dilakukan oleh laki-laki. Seperti orang yang tidak berdaya dan budaya itu yang kadang kita pupuk sampai dengan saat ini,” jelasnya.

Selain itu kata dia, penanganan kasus dengan menggunakan perspektif yang masih mengarah pada pelaku dan bukan korban juga menjadi salah satu faktor pendukung adanya kasus kekerasan seksual.

“Selama ini begitu ada kasus kekerasan seksual fokus kita adalah kepada pelaku. Tidak ada yang pernah menanyakan bagaimana keadaan dari korban. Apakah dia baik-baik saja ataukah dia membutuhkan pertolongan? Apakah lingkungan yang sekarang itu cukup aman untuk dia?,” jelasnya.

Hal lain juga yang turut menyumbang bertambahnya kekerasan seksual di Manggarai yakni karena penyelesaian masalah yang kerap kali secara kekeluargaan adat Manggarai.

“Kita selalu membawa masalah kekerasan seksual itu dalam budaya kita yang menyelesaikan itu dengan cara keluarga saja. Jadi tidak ada efek jera untuk pelaku. Tidak ada tindak lanjutnya. Pelaku-pelaku lain yang berpotensi membaca itu kemudian berpikir bahwa tidak dibawa ke ranah hukum, berarti saya bisa dong melakukan hal itu,” terang Ebi.

Meski demikian, ia mengharapkan agar semua pihak bahu membahu menyelesaikan persoalan tersebut supaya kasus-kasus serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.

“Dan saya berharap selain kita miliki itu tadi saya mengajak pemerintah, para tokoh agama, tokoh masyarakat untuk bergandengan tangan, sama-sama kita meminimalisir. Kalau kita mau menghilangkan itu maka kita harus bergandengan tangan,” harapnya.

Sedangkan terhadap keluarga dan masyarakat yang hidup berdampingan dengan korban kekerasan seksual, diharapkan agar memahami kondisi korban dengan baik.

“Kadang kita merasa ‘victim blaming’ ya. Jadi jauhi kata-kata yang menyakiti korban itu sendiri. Kita mulai dengan memahami apa yang sedang terjadi, kondisi dari korban itu. Kemudian butuh kepekaan dan perhatian dari lingkungan terdekat. Kita harus bisa pahami ketika korban itu punya penyimpangan perilaku misalnya saja dia tiba-tiba menarik diri dari lingkungan, mungkin tiba-tiba dia ‘panic attack’, misalnya saja dia tiba-tiba lari ke dalam kamar dan menutup kamar. Dibawah selimut dia matikan lampu dan apa segala macam,” jelasnya.