Sementara Praktisi Psikologi yang juga menjabat sebagai Direktur Yayasan Mariamoe Peduli (YMP) Akbina Redempta Umen menjelaskan tentang kondisi terkini Manggarai yang mengalami kenaikan masalah kekerasan seksual.
“Bahkan perkiraan kami masih banyak kasus yang tidak dilaporkan ke Kepolisian. Jadi sebenarnya angka kekerasan seksual itu lebih tinggi dari rilisnya kepolisian. Karena dari kepolisian kemarin kalau tidak salah 46.
Nah 46 ini diluar dari cari data YMP,” jelas Ebi dalam kesempatan Diskusi Primetime di Studio Radio Manggarai, Rabu (23/02/22) malam.
Tidak hanya ia juga menjelaskan bahwa sampai sekarang masih banyak sekali masyarakat yang menjadi korban kekerasan seksual namun enggan melaporkan ke kepolisian termasuk kepada YMP karena berbagai alasan.
“Dan hasil studi kami (YMP), tujuh dari sepuluh korban penyintas atau kekerasan seksual tidak melakukan apa-apa karena tidak tahu harus berbuat apa, bingung bagaimana cara menjelaskan. Rasa malu kalau itu dijelaskan. Enam dari sepuluh korban kekerasan seksual tidak berani melaporkan karena tidak tidak punya bukti dan takut diketahui oleh orang lain atau merasa itu aib,” papar Ebi.
“Delapan dari sepuluh korban penindasan atau kekerasan seksual tidak mau diproses hukum karena merasa tidak berdaya, merasa tindak kekerasan seksual bukanlah kejahatan yang berat, memakan waktu yang cukup banyak, tidak mau di introgasi, tidak terlalu nyaman dengan pihak kepolisian,” tambahnya.
Ebi menjelaskan, sejumlah lokasi yang kerap kali dijadikan tempat untuk melancarkan aksi kekerasan seksual yakni tidak hanya di tempat-tempat umum melainkan juga telah masuk ke ranah privat, sehingga dari semuanya itu, lokus yang paling sering yakni di kebun dan hutan.
“Ada beberapa tempat kekerasan seksual menurut catatan kami yakni di rumah dan ini bisa terjadi antara anak dan orang tua. Di sekolah. Di dalam kendaraan umum juga ada ya. Kita pernah mendengar kejadian di sebuah travel dengan rute Ruteng – Reo. Kemudian di jalanan umum itu juga ada, bahkan tempat ibadah pun ada. Mungkin ada yang pernah dengar tentang kasus di Rahong Utara di dalam gereja, anak kecil dengan Dewan Paroki ya kalau tidak salah. Nah kemudian kebun dan hutan ini yang paling sering,” beber Ebi.







Tinggalkan Balasan