Mengacu pada fakta ini kata dia, maka pihaknya kini tengah berkonsentrasi untuk mendesain Pendidikan yang memupuk karakter anti kekerasan seksual. Lembaga pendidikan mesti menjadi tempat pemupukan karakter anti kekerasan seksual.
Selain pendekatan sistem, pembangunan sarana prasarana penunjang menurut Kadis Frans tentu akan menjadi sebuah kebutuhan mendesak agar kasus kekerasan seksual sebisa mungkin diminimalisir. Misalnya saja seperti pembangunan toilet yang harus dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.
“Toilet di sekolah tidak boleh digabungkan. Kita upayakan agar kedepan toilet tidak boleh dicampuradukkan antara laki-laki dan perempuan. Bila perlu, kalau toilet pria di timur maka wanita harus di Barat,” jelas Kadis Frans itu.
Ia pun berharap pentingnya kolaborasi semua pihak dalam mengampanyekan anti kekerasan seksual. Kampanye tersebut melibatkan semua elemen untuk menjadi salah satu opsi untuk tidak hanya memberikan edukasi kepada seluruh masyarakat melainkan juga untuk merumuskan pola-pola konkrit untuk memutuskan mata rantai kekerasan seksual.



Tinggalkan Balasan