“Kita lalu mulai berdiskusi dan mengambil master plan yang diusun dengan melihat batas batas tanah yang terbaru. Di mana, konsepnya tetap konsep Salib. Jadi, kalau master plan tata bangunan di sini diperhatikan dari atas udara, akan terlihat bahwa tata bangunannya berbentuk salib. Dan jantung dari Salib itu berada di patung Arnoldus Jansen itu,” jelas Pater Yul.

Dari alurnya, lanjut Pater Yulius Yasinto, tahun 2015 saat memasuki periode kedua dirinya menjabat rektor, ide tentang membangun rektorat sudah mulai menguat. Saat itu, bersama para pengurus Yanpenkar, dirinya terus mendorong hal ini dalam setiap pertemuan termasuk di RUA.

Akhirnya persetujuan prinsipnya sudah diterima di RUA Yapenkar 2015. Setelah itu, pihaknya mencari desainer, lalu ditemukan arsitektur yang cocok yang memahami konsep-konsep yang disodorkan Yapenkar.

“Setelah mendiskusikan konsep-konsep bangunannya, akhirnya kami sepakat dan mulai dibangun,” cerita Pater Yul.

Gedung rektorat akhirnya dibangun dan pembangunan itu telah rampung sehingga siap diresmikan. Menurut Pater Yul, hal paling prinsip dari konsep gedung Rektorat Unwira adalah, pertama, efektifitas. Yaitu efektifitas alur pelayanan mahasiswa. Bahwa mahasiswa harus merasa nyaman dalam area yang nyaman dan tidak ada tumpukan saat registrasi. Dan juga pegawai yang melayani mereka harus merasa nyaman. Artinya, dari tiga alur pelayanan mahasiswa yang utama yaitu registrasi di BAK, pendataan di Pusat Teknologi Informasi, dan verifikasi di Keuangan harus berjalan satu arah dan di satu lokasi. Itulah alasan mengapa, seluruh pusat pelayanan mahasiswa diletakan di lantai satu.