Masalah laiannya, sebut Pater Yul, adalah fasilitas-fasilitas umum ketika Unwira ingin mengadakan acara public seperti aula, sangatlah terbatas. Sebagai mantan rektor, Pater Yul merasa sangat malu dengan realita tersebut.
Putra Manggarai ini bahkan bercerita, ketika dua kali acara pelantikan dirinya sebagai rektor, banyak tamu yang mengeluh karena ruangan sangat panas.
Selain itu, ketika ada pihak luar yang datang untuk rapat koordinasi atau penandatanganan kesepakatan dengan Unwira, semuanya hanya terpusat di satu ruangan konferensi kecil yang terletak di samping ruangan Rektorat.
Bahkan ada cerita tidak enak, di mana, pada suatu ketika, ketika pihak BI datang untuk kegiatan di Unwira, mereka harus menyewa AC tambahan sendiri agar ruangan menjadi lebih sejuk.
“Jadi rasanya bagaimana jika sebuah Universitas besar dengan perkembangan yang sekian pesat tapi keadaannya seperti itu? Itulah yang membuat kita berpikir, Unwira harus memiliki gedung baru yang representative. Terutama untuk pelayanan mahasiswa agar alur dari registrasi ke BAK, ke keungan berjalan dalam satu area yang bagus dan nyaman. Inilah yang menjadi ide awal,” katanya.



Tinggalkan Balasan