Menurut Lusti, lembaga terkait harus dapat mempertimbangkan pengembangan komunikasi resiko yang melibatkan para remaja, sekaligus memetik pembelajaran yang baik, maupun yang perlu diperbaiki dalam pengembangan komunikasi resiko mereka, khususnya dalam upaya penanganan COVID-19.
“Harus adanya komitmen dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk bisa mengimplementasikan praktik, baik yang telah dilakukan pada program kegiatan Lingkar Remaja,” jelasnya.
Pendeta Mery Kolimon, mengaku sudah banyak pendeta, jemaat, dan anak-anak remaja yang harus meregang nyawa karena virus COVID-19
“Sehingga, GMIT terus mengkomunikasikan risiko ini kepada jemaat melalui surat gembala, dengan berbagai bahasa lokal, dan lewat mimbar supaya risiko ini bisa diminimalisir dan dimitagasi dengan baik,” terangnya.
Ketua Asosiasi Jurnalis Indonesia NTT, Marthen Bana, berharap agar berita-berita terkait COVID-19 perlu dilakukan pengecekan terlebih dahulu, sebelum di sebarluaskan ke publik.
“Karena sekali kita share informasi apa yang tidak benar, kita terjerumus ke dalam pemberi berita hoax dan mencelakakan banyak orang. Kita saring dulu baru sharing ke yang lain,” pintanya.





Tinggalkan Balasan