Yang esensi melebur dengan yang eksistensi. Pembedaan keduanya tak lagi bermakna di jaman ini. Sikap displin dan serius digantikan dengan humor dan tawa. Permenungan mendalam atas suatu peristiwa kini menjadi langka.

Merayakan Kedangkalan

Ada dua analisis atas gejala ini. Yang pertama mengatakan bahwa ini adalah krisis peradaban yang perlu diratapi. Yang kedua mengatakan bahwa ini adalah gejala lahirnya gaya hidup baru yang perlu untuk dirayakan. Masyarakat kita terbelah di dalam dua kelompok itu.

Yang pertama meratapi perubahan. Sikap pesimis tercium di udara. Krisis menjadi wacana utama. Tak pelak lagi orang berteriak dengan kematian moralitas dan akhir jaman.

Di Indonesia kalangan pemuka agama berada di kelompok ini. Mereka menyatakan keprihatinan mendalam yang mengikis diri. Argumen-argumen moralis keluar dari mulut mereka. Di balik semua ini bercokol rasa
ketidakpercayaan diri.

Yang kedua merayakan perubahan. Mereka merayakan pembalikan nilai-nilai yang mengguncang keseharian. Humor dan tawa mewarnai hari-hari. Tindakan diwarnai dengan optimisme diri.

Di Indonesia mereka adalah orang-orang progresif yang mengedepankan perubahan. Para seniman, budayawan, dan intelektual tercakup di dalamnya.

Pembalikan nilai-nilai bukanlah tabu, melainkan bukti, bahwa sejarah bekerja. Krisis dimaknai sebagai kesempatan untuk bergerak ke depan.

Yang sesungguhnya terjadi adalah esensi tidak menghilang. Esensi hanya berganti wajah. Ia menyelinap di dalam permukaan, dan membuatnya berwarna serta bermakna. Sejarah tidak berubah, melainkan hanya berganti muka.

Para pemuka agama tak perlu khawatir, karena peradaban bergerak ke arah keseimbangan. Tradisi tidak lenyap melainkan menemukan wajah baru yang lebih relevan. Para seniman, budayawan, dan intelektual merayakan kedangkalan, karena mereka menemukan kesejatian terselip di dalamnya. Keduanya berpelukan tanpa bisa sungguh dibedakan.

Kita hidup di era paradoks, di mana kedangkalan adalah sesuatu yang perlu dirayakan, sama seperti kita merayakan kesejatian.