Orang mencintai permukaan. Mereka tidak peduli tentang apa yang ada di belakang semua itu. Orang tidak lagi membedakan apa yang sejati dan apa yang semu. Semua melebur di dalam lintasan ruang dan waktu.

Di Indonesia, apa yang tampak selalu mengorbankan apa yang sejati. Kedangkalan dan kebodohan dianggap lebih berharga daripada kedalaman maupun kesejatian.

Pembalikan Nilai-nilai

Yang terjadi adalah pembalikan. Apa yang permukaan menjadi apa yang sejati. Yang esensi dianggap sebagai tidak asli. Secara perlahan yang esensial menyelinap didalam ketiadaan.

Inilah yang tepat terjadi di Indonesia. Yang esensial tidaklah lenyap, melainkan berganti muka. Yang esensial adalah yang permukaan. Yang esensial adalah apa yang tampak.

Kesejatian diri disamakan dengan jumlah kekayaan material. Kebahagiaan disamakan dengan jumlah saham dan deposito. Kedewasaan disamakan dengan cara berpakaian. Harga diri disamakan dengan tipe handphone yang digunakan.

Yang esensi melebur dengan yang eksistensi. Pembedaan keduanya tak lagi bermakna di jaman ini. Sikap displin dan serius digantikan dengan humor dan tawa. Permenungan mendalam atas suatu peristiwa kini menjadi langka.