“Kita dekat dengan Australia, Timor Leste, Pasifik Selatan dan juga negara-negara tetangga lainnya. Selama ini komoditi-komoditi kita keluar melalui Provinsi lain dan kita kehilangan devisa,” kata Dirut Alex Riwu Kaho dalam kegiatan bertajuk Media Gathering bersama awak media belum lama ini.
Ia menyebut dengan menjadi Bank Devisa, maka transaksi-transaksi ekspor impor, selain memberikan pajak untuk negara, tetapi juga akan memberikan ruang bagi penambahan PAD atau Pendapatan Asli Daerah.
“Misalnya dengan kehadiran pelabuhan petik emas atau rantai ekonomi lainnya misalnya industri energi terbarukan dan peternakan di Sumba, pariwisata di Labuan Bajo dan daerah lain, akan menciptakan value added pada neraca transaksi yang sebelumnya tercatat di neraca perdagangan provinsi lain, kita alihkan ke NTT,” jelas Riwu Kaho.
Sehingga nantinya, kata Dirut Alex, devisa bukan hanya diterima oleh negara, tetapi juga diterima oleh daerah melalui kebijakan pengolahan hasil dan kegiatan ekspor impor.
Direktur Utama Bank NTT dalam kesempatan yang sama mengajak awak media untuk turut serta berkontribusi membangun Bank NTT, sesuai harapan para pemegang saham dan seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur.



Tinggalkan Balasan