Serangan KKB Papua yang bertubi-tubi seolah memaksa masyarakat untuk selalu terjaga bahwa mereka tak bisa ditinggal lelap. Kepastian penyelenggaran Pekan Olahraga Nasional masih terombang-ambing. Apakah PON akan tetapp dilaksanakan dalam situasi genting seperti ini? Khawatir pada apa yang akan dilakukan KKB jika PON Papua XX, masyarakat memberikan respon yang beragam . Ada yang setuju namun bersyarat, dan sebagian lagi tidak setuju namun bukan pemegang kuasa. Tapi Negara kita bukanlah sekedar penguasa tanpa norma. Rakyatnya pun diberi kuasa bebas berpendapat. Walau kadang bertentangan namun kita percaya masih ada terang di persimpangan.
Tampaknya, ancaman KKB tidak mempengaruhi putusan pelaksanaan event nasional tersebut. Hal itu dipastikan secara langsung oleh Presiden RI Jokowidodo yang menegaskan bahwa PON Papua XX akan tetap berlangsung sesuai jadwal. Ketika kalimat itu dikatakan orang nomor satu negara, maka tak perlu rakyatnya merasa cemas. Perkataan Pak Jokowi dapat jadikan pegangan bahwa keamanan PON Papua XX akan terjamin. Terbukti dengan Panitia Besar PON yang juga menjamin keamanan para kontingen yang akan hadir dan memastikan lokasi-lokasi pertandingan bebas dari gangguan. Bekerja sama dengan Kementrian Koordinator Politik Hukum dan HAM, Panitia Besar PON telah melakukan pemetaan kemungkinan terjadinya resiko gangguan keamanan. Perencanaan sudah mendekati pelaksanaan. Persiapan tentunya tak perlu diragukan. Sekarang tergantung kita, percaya atau tidak.
Tapi janganlah kita lupa, hubungan kita dengan virus corona bukanlah simbiosis mutualisme. Kita para manusia sudah dirugikan sejak Maret 2020 lalu. Apakah sebaiknya kita menuntut balasan? Bagaimana mungkin, lawan kita seperti musuh di film Invisible Man. Tak terlihat namun mematikan. Mengingat para kontingen dan para staff akan diutus dari provinsi masing-masing, tentunya tidak ada niat untuk menambah kluster baru. Yang ada virus corona akan semakin merasa menang jika tidak dilawan. Oleh karena itu, kewajiban mematuhi protokol kesehatan tetap dilakukan. Walau para kontingen butuh menghirup lebih banyak udara tanpa disaring masker. Memang saat ini kebebasan bernafas kita sedang direnggut oleh setan mikroskop itu. Entah kapan dia pergi. Ketika datangpun taka da yang membukakan pintu.







Tinggalkan Balasan