Ir. Hani Hendrikus dalam pemaparannya tentang bencana dari perspektif ilmu teknik, menegaskan sebuah tesis menarik bahwa: “Bencana adalah laboratorium terbuka untuk belajar banyak hal. Dan tidak ada bencana yang sia-sia dalam peradaban manusia.”

Menurut Hendrikus, yang ingin ditekankan adalah selalu ada kekuatan super yang muncul di tengah ancaman. Contohnya manusia, ketika dikejar anjing, orang bisa berlari melompati tembok meski dia tidak pernah melakukan itu. Sama halnya dengan pandemi. Tidak ada yang sia-sia. Pasti ada manfaatnya bagi peradaban manusia.

Sebagai contoh, sebut Hendrikus, tahun 1832 di New York, ada wabah kolera yang sangt hebat. Gara-gara wabah inilah kemudian muncul ide membuat taman kota New York yang sangat luar biasa itu. Artinya, ada banyak hal baik dan luar biasa di balik bencana.

Pembicara terakhir, Yoseph Andreas Gual membahas sebuah konsep menarik tentang komuniksi krisis. Menurut Gual, ke depannya, dengan belajar dari Pandemi Covid-19, Unwira sebagai Lembaga PT sangat membutuhkan unit khusus yaitu divisi Humas yang bisa menangani komunikasi krisis. Sebab, krisis adalah situasi yg tidak terduga. Harus ada manajemen issu agar semua pihak bisa dikendalikan dengan manajemen issu yang baik dan tepat