Pembicara berikutnya, Dr. Perseveranda, coba menyoroti masalah Kemiskinan di NTT. Ia mengemukakan ide tentang strategi penanggulangan kemiskinan di NTT. Menurutnya, kemiskinan di NTT harus ditangani dengan serius. Ukuran kemiskinan bisa dilihat dari pemenuhan kebutuhan pokok. Dimana untuk NTT ukuran nominalnya adalah Rp. 403 ribu per bulan.

Pendapatan perjapita per orang itu wajib dilampaui agar dia tidak miskin. Jika di bawah angka tersebut maka dia miskin. Sehingga menurut Dr. Perseveranda, orang miskin di NTT adalah mereka yang butuh perhatian pemerintah, gereja dan semua kita.

Sebab, kata dia, sebagaimana dikatakan Bunda Teresa dari Kalkuta bahwa: “Kalau kita tidak bisa memberi makan kepada 100 orang, maka kita cukup memberi makan kepada satu orang.” Dan di NTT, jika menggunakan persentase kemiskinan maka wilayah Sumba Tengah dan Sabu Raijua juga Sumba secara keseluruhan, dan TTS, menyumbang angka kemiskinan tertinggi.

Menurut Dr. perseveranda, strategi penanggulangan kemiskinan yang harus digunakan adalah: penguatan sistem jaminan sosial nasional, pengutan fungsi pendampingan dalam melaksanakan program bantuan sosial, pengembangan integrasi dan digitalisasi bantuan sosial, penguatan sistem perlindungan sosial, dn peningkatan kesejahteraan sosial bagi kelompok rentan.