Kondisi hidrosefalus dapat terjadi saat produksi cairan otak berlebihan, adanya gangguan aliran cairan otak, atau karena gangguan penyerapan cairan otak. Penumpukan cairan ini menyebabkan peningkatan tekanan pada otak serta mengambil ruang yang seharusnya ditempati oleh otak untuk berkembang. Semakin lama hidrosefalus dibiarkan terjadi, perkembangan otak akan semakin terhambat hingga anak akan mengalami gangguan tumbuh kembang, penurunan kecerdasan, gangguan koordinasi, kejang, gangguan penglihatan, penurunan daya ingat, kesulitan belajar, gangguan bicara, atau sulit konsenstrasi. Oleh karena itu, sangat penting mengenali faktor risiko dan gejala hidrosefalus sejak dini. 

Bayi yang mengalami hidrosefalus biaranya memiliki gejala seperti kepala yang terlihat lebih besar disbanding anak sebayanya, kejang, rewel terus-menerus, tidur terus-menerus, tidak mau menyusu, kurangnya pergekarakan tangan dan kaki, muntah yang menyemprot, serta keterlambatan perkembangan (misalnya pada usia 9 bulan belum bisa duduk). Terkadang tidak semua tanda di atas muncul, adanya salah satu tanda saja sudah menrupakan peringatan bagi orangtua untuk memeriksakan ke dokter terdekat. Salah satu cara mengetahui apakah pertumbuhan kepala bayi normal adalah dengan memeriksakan bayi ke posyandu sercara rutin untuk diukur lingkar kepalanya.