“Saya punya rasa memiliki terhadap perusahaan, dan sangat berharap hal itu juga dirasakan oleh pemilik perusahaan termasuk anaknya yang saat ini memimpin perusahaan itu.
Ternyata tidak. Saya malah diabaikan dan mereka memecat saya tanpa mempertimbangkan jasa. Bahkan tidak ada pesangon yang diberikan,” ungkapnya.

Ia mengaku sudah tidak bisa bekerja lagi, sebab tenaganya sudah habis bekerja selama 22 tahun di perusahaan tersebut.

“Waktu saya sejak 22 tahun lalu hingga 2021, ini dihabiskan dengan bekerja di perusahaan. Lalu saya dipecat begitu saja. Menurut saya ini tidak adil. Saya harap pemerintah tentu bisa mengatasi persoalan buruh kecil seperti saya ini,” tutur Rofinus

Kisah Dipecat

Pada bulan Februari 2021, Rofinus tetap kerja seperti biasanya seperti para pekerja lain. Namun waktu itu ia mengalami sakit yang tidak biasa yaitu kerasukan di tempat kerja. Karena mengalami kerasukan, ia meminta izin untuk pulang berobat secara tradisional atau terapi di kampung.

“Sebab saya pikir sakit yang saya alami tidak ada di Rumah Sakit, dan pihak perusahaan mengetahui hal itu. Sehingga saya minta izin untuk pulang,” jelasnya.