Di sisi yang lain, kita juga cenderung mendekati permasalahan pemerkosaan dengan pendekatan moralistik. Artinya, kita memaksa perempuan untuk menutupi tubuhnya dengan alasan-alasan moral. Juga dengan berpijak pada moral, kita menghambat gerak perempuan, sehingga mereka, misalnya, tidak boleh pulang malam, atau berjalan kaki di daerah-daerah tertentu.

Pada saat yang sama, kita justru tidak mendidik para pelaku, yang biasanya adalah laki-laki, untuk mengenali dan mengelola dorongan-dorongan hasrat mereka.

Kita hanya sibuk dengan memberi himbauan-himbauan dan larangan-larangan moral yang biasanya bersifat agamis kepada perempuan semata.

Selain itu, tema seksualitas dan hasrat kenikmatan masih menjadi hal yang tabu dan tak pernah dibahas. Ini jelas sebuah kesalahan besar.

Cara berpikir pemerkosa

Saat kita diperhadapkan dengan berbagai berita pemerkosaan. Ada satu pertanyaan yang sering kita ajukan. Pertanyaannya adalah, apa yang ada di pikiran para pelaku pemerkosa itu?

Jika kita tenang, dan diam sejenak untuk merenungi cara berpikir pemerkosa, kita tentu bisa menemukan jawabannya.