“Saya suruh suami dan anak saya untuk segera lari. Kemudian saya tenangkan jemaat di Gereja dan saya kunci pintu. Saya lihat di antara massa itu ada warga jemaat saya,” ucapnya.
Pdt. Erna kemudian mengajak jemaat untuk berdoa, namun dalam ketakutan karena mendengar bunyia dan teriakan massa. Usai berdoa, dia keluar menggunakan toga dan berjalan menuju ke pertigaan.
Saat itu, ada dua orang yang memegang kelewang dan anak panah. Mereka melihatnya, namun Pdt. Erna tetap menguatkan diri.
“Kemudian ada mobil truk kuning yang berisi beberapa orang menghampiri saya kemudian mereka ancam saya. Di atas truk, mereka bilang begini, ini dia ju (juga,red). Bakar dia sudah. Jadi saya bilang mari bakar su (sudah,red). Beta (saya,red) ada pake tiga jadi mari bakar su,” tutur Pdt. Erna Fanggidae.
“Saya pakai toga makanya saya ditolong. Kalau tidak mungkin saya sudah dibunuh,” sambungnya.
Sementara itu, Guster Tafoki yang merupakan salah satu korban menyatakan rumah, kios, dan bengkelnya ikut dibakar.
“Uang saya sebanyak Rp40 Juta di dalam rumah dan tiga celengan juga hangus terbakar saat rumah saya dibakar,” ungkapnya.





Tinggalkan Balasan