Oleh: Leo de Jesus Leto
(Warga NTT Tinggal di Chile)
Kita sudah biasa mendengar, juga melihat para pengamen bertengger di sudut-sudut keramaian, di dalam bus atau di atas kereta api dengan talenta yang khas dan alat musik seadanya. Pada umumnya kita cenderung memahami istilah mengamen dari perspektif “negatif” dan menganggapnya sebagai tindakan meminta-minta dari kaum miskin-marginal karena desakan kebutuhan hidup.

Tapi, kalau kita jeli menukik jauh lebih ke dalam maka sebenarnya aktivitas mengamen itu bukan sekedar aksi meminta-minta yang kosong, melainkan di dalam dirinya ada rasa seni dan nilainya tersendiri. Aktivitas mengamen selalu membaluti dirinya dengan ekspresi karya seni yang alami. Misalnya, bernyanyi dan lain-lain demi menghibur suasana para pelancong dengan cara yang lebih alami. Sebab itu, mengamen pada konteks ini bisa dipahami sebagai sebuah ekspresi karya seni kaum kecil-pinggiran.



Tinggalkan Balasan