Oleh: Leo de Jesus Leto
(Warga NTT Tinggal di Chile)
Kita sudah biasa mendengar, juga melihat para pengamen bertengger di sudut-sudut keramaian, di dalam bus atau di atas kereta api dengan talenta yang khas dan alat musik seadanya. Pada umumnya kita cenderung memahami istilah mengamen dari perspektif “negatif” dan menganggapnya sebagai tindakan meminta-minta dari kaum miskin-marginal karena desakan kebutuhan hidup.

Tapi, kalau kita jeli menukik jauh lebih ke dalam maka sebenarnya aktivitas mengamen itu bukan sekedar aksi meminta-minta yang kosong, melainkan di dalam dirinya ada rasa seni dan nilainya tersendiri. Aktivitas mengamen selalu membaluti dirinya dengan ekspresi karya seni yang alami. Misalnya, bernyanyi dan lain-lain demi menghibur suasana para pelancong dengan cara yang lebih alami. Sebab itu, mengamen pada konteks ini bisa dipahami sebagai sebuah ekspresi karya seni kaum kecil-pinggiran.
Di Chile setiap ekspresi karya seni si pengamen selalu dihargai. Biasanya, para penikmat karya seni si pengamen merogoh satu dua recehan dari dalam sakunya, lalu menyimpannya ke dalam kotak si pengamen. Duit recehan itu bagi si pengamen merupakan sesuatu yang sangat berarti. Dengannya, si pengamen bisa membeli sepotong roti atau kentang demi menyambung nafas kehidupan. Di dalam aktivitas mengamen terdapat dua unsur penting, yaitu nilai seni dan solidaritas.
Di sana, si pengamen menciptakan karya seni, sementara si pendengar menikmati hasil karya seni. Di dalamnya ada penyatuan perasaan dan jiwa walaupun sifatnya sementara saja. Di sana si pengamen dan pendengar melepaskan diri dari kurungan individualismenya masing-masing, lalu melebur ke dalam sifat dasarnya yang oleh Carl Marx disebut sebagai makhluk sosial. Jadi, aktivitas mengamen itu bukan saja soal meminta-minta dan memberi duit recehan, tapi di dalamnya unsur seni dan solidaritas berpadu menjadi satu.







Tinggalkan Balasan