Melalui misi panggung solidaritas ini P. Agus dan kelompok koor serta pastoral sosial paroki Quepe mendapat banyak hadiah dari umat terutama bahan-bahan kebutuhan dasar untuk membantu warga lain yang berkekurangan. Misi kreatif ini sudah berjalan dua tahun dan akan terus dijalankan pada momen-momen selanjutnya.

Mungkin Anda penasaran dan mengajukan pertanyaan ini. Lah, kok bisa, ya, pastornya menjadi pengamen jalanan? Kan, itu bisa saja melunturkan kewibawaan jabatannya sebagai pemimpin umat? Ya, bisalah.

Ini bukan soal kelunturan wibawa seorang pemimpin, tapi soal kasih, empati dan desakan rasa kemanusiaan kepada mereka yang hidupnya di ujung penderitaan. Pastor atau pemimpin sejati tidak pernah boleh memelihara mental feodal untuk menjaga kewibawaan seperti kaum penguasa yang suka main perintah dan marah-marah.

Sebaliknya, ia mesti meneladani gaya hidup Yesus yang fleksibel, berpikir jauh ke depan, bersikap terbuka dengan siapa saja, tanggap terhadap realitas sosial rakyat dan yang lebih penting lagi ialah bersikap bijak untuk mendaratkan ide-ide cemerlang dalam kotbahnya ke dalam dunia hidup praktis seperti yang selalu dilakukan oleh Yesus Sang Guru di negeri Palestina dua ribuan tahun yang silam supaya tidak terjebak dalam bahaya idealisme hampa kaum Farisi.