Aktivitas mengamen P. Agus Naru bersama kelompok umatnya itu mendapat banjir hadiah dari masyarakat sekitar. Memang ide dasar dan tujuan dari panggung solidaritas itu ialah untuk menghibur rakyat yang sudah setahun lebih terkurung di rumah saja karena Covid-19 dan mengumpulkan sebanyak mungkin bahan sembako dari pemberian umat yang berkelebihan untuk membantu masyarakat dan keluarga-keluarga sekitar yang mengalami kesulitan hidup di tengah situasi pandemi ini.

Melalui misi panggung solidaritas ini P. Agus dan kelompok koor serta pastoral sosial paroki Quepe mendapat banyak hadiah dari umat terutama bahan-bahan kebutuhan dasar untuk membantu warga lain yang berkekurangan. Misi kreatif ini sudah berjalan dua tahun dan akan terus dijalankan pada momen-momen selanjutnya.

Mungkin Anda penasaran dan mengajukan pertanyaan ini. Lah, kok bisa, ya, pastornya menjadi pengamen jalanan? Kan, itu bisa saja melunturkan kewibawaan jabatannya sebagai pemimpin umat? Ya, bisalah.

Ini bukan soal kelunturan wibawa seorang pemimpin, tapi soal kasih, empati dan desakan rasa kemanusiaan kepada mereka yang hidupnya di ujung penderitaan. Pastor atau pemimpin sejati tidak pernah boleh memelihara mental feodal untuk menjaga kewibawaan seperti kaum penguasa yang suka main perintah dan marah-marah.