Melihat para pengamen di sudut-sudut keramaian kota itu sudah menjadi hal yang lumrah. Namun, pernahkah kita melihat seorang pastor mengamen di jalanan? Mungkin saja Anda belum melihatnya atau merasa tidak percaya bahwa pastor bisa mengamen, lalu muncul pertanyaan. Lah, kok bisa sampean seorang pastor ngamen di jalanan? Ya, bisa saja selagi ada jalan dan peluang. Sang pastor pengamen itu bernama P. Agustinus Naru, SVD. Ia bekerja di Paroki Hati Kudus Yesus Quepe, di Chile bagian selatan. Mayoritas umat dalam parokinya adalah kaum Indian.
Cara mengamen misionaris asal Flores Bajawa itu cukup berbeda dengan para pengamen jalanan pada umumnya. Pater Agus tidak sendirian mengamen. Beliau bergandengan tangan dengan kelompok koor dan pastoral sosial di parokinya. Kelompok koor adalah pencetus ide untuk mengamen, kelompok pastoral sosial bekerja sebagai penerima barang pemberian dari umat. P. Agus Naru dan salah seorang pastor rekannya diminta khusus untuk ikut ambil bagian secara aktif dalam aktivitas mengamen tersebut. Mereka merancang sedemikian rupa sebuah mobil pick up sebagai panggung berjalan yang mereka namakan la Pérgola de la solidaridad. Secara etimologis kata pérgola berasal dari bahasa Latin, yaitu pergŭla artinya balkon. Dalam bahasa Spanyol pérgola juga diartikan sebagai balkon atau semacam panggung kecil yang dibangun sedemikian rupa dengan tiang-tiang kayu yang dihiasi dengan berbagai hiasan indah untuk mementaskan karya seni. Jadi, la Pérgola de la solidaridad artinya panggung solidaritas.
Melalui panggung solidaritas ini P. Agus Naru bersama dua kelompok tadi mulai memainkan aktivitas mengamen. Mereka berjalan mengelilingi kota kecil Quepe sambil menyanyikan lagu-lagu khas Chile. Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa setiap karya seni di Chile selalu dihargai oleh para penikmat seni.
Aktivitas mengamen P. Agus Naru bersama kelompok umatnya itu mendapat banjir hadiah dari masyarakat sekitar. Memang ide dasar dan tujuan dari panggung solidaritas itu ialah untuk menghibur rakyat yang sudah setahun lebih terkurung di rumah saja karena Covid-19 dan mengumpulkan sebanyak mungkin bahan sembako dari pemberian umat yang berkelebihan untuk membantu masyarakat dan keluarga-keluarga sekitar yang mengalami kesulitan hidup di tengah situasi pandemi ini.







Tinggalkan Balasan