Di Chile setiap ekspresi karya seni si pengamen selalu dihargai. Biasanya, para penikmat karya seni si pengamen merogoh satu dua recehan dari dalam sakunya, lalu menyimpannya ke dalam kotak si pengamen. Duit recehan itu bagi si pengamen merupakan sesuatu yang sangat berarti. Dengannya, si pengamen bisa membeli sepotong roti atau kentang demi menyambung nafas kehidupan. Di dalam aktivitas mengamen terdapat dua unsur penting, yaitu nilai seni dan solidaritas.

Di sana, si pengamen menciptakan karya seni, sementara si pendengar menikmati hasil karya seni. Di dalamnya ada penyatuan perasaan dan jiwa walaupun sifatnya sementara saja. Di sana si pengamen dan pendengar melepaskan diri dari kurungan individualismenya masing-masing, lalu melebur ke dalam sifat dasarnya yang oleh Carl Marx disebut sebagai makhluk sosial. Jadi, aktivitas mengamen itu bukan saja soal meminta-minta dan memberi duit recehan, tapi di dalamnya unsur seni dan solidaritas berpadu menjadi satu.    

Melihat para pengamen di sudut-sudut keramaian kota itu sudah menjadi hal yang lumrah. Namun, pernahkah kita melihat seorang pastor mengamen di jalanan? Mungkin saja Anda belum melihatnya atau merasa tidak percaya bahwa pastor bisa mengamen, lalu muncul pertanyaan. Lah, kok bisa sampean seorang pastor ngamen di jalanan? Ya, bisa saja selagi ada jalan dan peluang. Sang pastor pengamen itu bernama P. Agustinus Naru, SVD. Ia bekerja di Paroki Hati Kudus Yesus Quepe, di Chile bagian selatan. Mayoritas umat dalam parokinya adalah kaum Indian.