Penulis: Agung Hermanus Riwu – Kepala SDK Santo Yoseph 2 Naikoten
Beberapa waktu lalu saya bersama seorang sahabat mengikuti kegiatan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, di SMKN 5 Kupang. Saat itu gubernur meluncurkan berbagai produk unggulan sekolah yang dikemas dalam program One School One Product (OSOP). Di tengah penjelasannya, gubernur mengatakan bahwa OSOP adalah cara sekolah memuliakan karya anak.
Belum selesai kalimat itu diucapkan, sahabat saya yang duduk di samping langsung berbisik, “Gubernur bicara seperti filsuf ko.” Kami pun tersenyum.
Sahabat saya itu bukan guru, bukan dosen, atau pengamat pendidikan. Ia seorang wartawan. Tetapi terus terang saya merasa bisikan itu tidak sepenuhnya keliru.
Mengapa? Karena gagasan “memuliakan karya anak” memang memiliki napas yang sama dengan pemikiran para filsuf pendidikan dunia. John Dewey, misalnya, meyakini bahwa pendidikan bukan sekadar proses menerima pengetahuan, melainkan proses menghasilkan pengalaman yang bermakna melalui tindakan dan karya. Anak belajar bukan hanya mendengar, tetapi mencipta.







Tinggalkan Balasan