Keberadaan Haji Malik juga membawa dampak sosial bagi keluarga Usman Siddin. Rezeki mengalir dalam berbagai bentuk, memungkinkan mereka membantu masyarakat yang kesulitan, termasuk beberapa warga asing yang mengalami masalah keimigrasian hingga dibelikan tiket pulang.
Namun, upaya memperpanjang visa Haji Malik tidak berhasil karena jenis visa yang dimilikinya tidak dapat diperpanjang. Meski banyak warga, tokoh masyarakat, hingga pejabat daerah mengajukan diri sebagai penjamin—termasuk Gubernur NTT saat itu, Ben Mboi—Haji Malik tetap harus menjalani prosedur imigrasi. Setelah beberapa hari, ia diberangkatkan secara terhormat dari Pelabuhan Tenau menuju Jakarta dengan Kapal Kalimutu, disaksikan ratusan warga yang mengiringi kepergiannya dengan doa.
Di Jakarta, Haji Malik dikenal sebagai pengusaha permadani rajutan tangan bernilai spiritual tinggi, terbuat dari bahan halal dan alami. Ia memiliki izin dan sertifikat dari para guru spiritualnya untuk melayani pembuatan permadani bagi kalangan pemimpin dunia. Dalam perjalanannya, ia tercatat melayani enam Presiden Republik Indonesia, mulai dari era Presiden Soeharto hingga Joko Widodo.
Beberapa peristiwa simbolik turut dikenang, di antaranya pemberian karpet kepada Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1995 di Ciganjur, yang kala itu disampaikan sebagai hadiah sederhana seorang musafir. Ia juga pernah melayani keluarga Presiden BJ Habibie, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Presiden Joko Widodo, dengan doa dan simbol permadani yang diyakini membawa makna harapan dan tanggung jawab kepemimpinan.
Haji Malik dikenal sebagai sosok yang menjaga jarak dari politik praktis. Saat kembali ke Kupang beberapa waktu lalu, ia memilih berdoa secara pribadi tanpa menghadiri agenda politik apa pun, meski diminta hadir dalam kegiatan deklarasi tokoh politik daerah. Sikap tersebut menegaskan prinsipnya untuk tetap berada di jalur spiritual dan kemanusiaan.
Hingga kini, silaturahmi Haji Malik dengan keluarga Usman Siddin dan masyarakat Kupang tetap terjaga. Warga setempat mengenang kehadirannya sebagai bagian dari sejarah spiritual kota, yang membawa keteduhan, solidaritas sosial, dan nilai-nilai keikhlasan.







Tinggalkan Balasan