Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Dumullahi Djami, M.Si, menilai, buku Melawan Lupa di Kerajaan Taebenu sebagai karya penting yang membangkitkan kembali ingatan kolektif tentang akar sejarah dan identitas masyarakat Kupang.
“Buku ini bukan hanya dokumentasi sejarah, tetapi seruan moral agar kita tidak kehilangan jati diri,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Samuel Benyamin Pandie, S.Th, mengapresiasi buku Serpihan Kisah Raja-Raja Tanof, yang menurutnya menghadirkan sejarah sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan.
“Para penulis merangkai serpihan kisah yang berserakan menjadi narasi yang hidup dan bernyawa. Di balik fakta, ada jiwa yang berbisik kepada generasi muda,” ujarnya.
Tim penulis UPTD SDN Palsatu terdiri dari Belmira S. F. Santos, M.Pd., Gr., Thince A. Anone, S.Pd., Gr., Bibiana A. F. Woda, S.Pd., Nora F. Ballo, S.Pd., Gr., Andri E. Letik, S.Pd., Gr., dan Eklianindi Y. Saekoko, S.Pd., Gr.
Keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam gerakan literasi ini, menjadi bukti komitmen Pemerintah Kota Kupang, untuk membangun ekosistem budaya dan pendidikan yang inklusif, memberdayakan gagasan warga, serta memperkuat peran komunitas dalam pembangunan daerah.
(AGN/ADV)



Tinggalkan Balasan