Kupang, KN – Rabu 26 November 2025, menjadi momentum bersejarah bagi UPTD SD Negeri Palsatu dan masyarakat Kota Kupang. Setelah perjalanan riset dan penulisan selama satu tahun, tim penulis UPTD SDN Palsatu resmi meluncurkan dua buku sejarah berjudul “Melawan Lupa di Kerajaan Taebenu: Jejak Makam dan Istana Raja Tanof dalam Warisan Budaya Abadi” dan “Serpihan Kisah Raja-Raja Tanof pada Kerajaan Taebenu dan Implikasinya Bagi Generasi Muda Masa Kini”.
Buku ini merupakan salah satu bentuk atau wujud nyata, komitmen Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dan Wakil Wali Kota Kupang Serena Cosgrova Francis, dalam membangun ekosistem budaya, dan pendidikan yang inklusif.
Peluncuran ini menjadi persembahan UPTD SDN Palsatu untuk memperingati Hari Guru Nasional 2025, sekaligus bentuk penghargaan kepada Keluarga Besar Tanof serta masyarakat Kota Kupang yang selama ini menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya lokal.
Plt. Kepala UPTD SDN Palsatu, Belmira S. F. Santos, mengungkapkan rasa bangga dan haru atas keberhasilan tersebut.
“Hari ini sungguh bersejarah bagi kami. Kerja keras dan mimpi yang kami jaga bersama akhirnya membuahkan hasil. Semua ini terjadi karena anugerah Tuhan,” ujarnya.
Belmira menjelaskan bahwa, kedua buku ini merupakan ikhtiar untuk melestarikan budaya Taebenu, yang kaya akan nilai sejarah, kearifan, serta makna kehidupan.
Ia menekankan, pentingnya melawan lupa, dan menjaga warisan leluhur, sebagai identitas yang terus hidup bagi generasi mendatang.
Menurutnya, proses penulisan buku lahir dari riset mendalam melalui wawancara dengan narasumber primer, penelusuran arsip lama, serta berbagai pertemuan dan bantuan yang datang secara tulus dari banyak pihak.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT Haris Budiharto, Keluarga Besar Tanof, serta seluruh pihak yang mendukung proses penulisan hingga peluncuran buku.
“Panitia bekerja siang dan malam mempersiapkan acara ini. Kami juga sedang menyiapkan buku antologi cahaya yang berisi kisah inspiratif guru dan pegawai UPTD Palsatu,” tambahnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Dumullahi Djami, M.Si, menilai, buku Melawan Lupa di Kerajaan Taebenu sebagai karya penting yang membangkitkan kembali ingatan kolektif tentang akar sejarah dan identitas masyarakat Kupang.
“Buku ini bukan hanya dokumentasi sejarah, tetapi seruan moral agar kita tidak kehilangan jati diri,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Samuel Benyamin Pandie, S.Th, mengapresiasi buku Serpihan Kisah Raja-Raja Tanof, yang menurutnya menghadirkan sejarah sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan.
“Para penulis merangkai serpihan kisah yang berserakan menjadi narasi yang hidup dan bernyawa. Di balik fakta, ada jiwa yang berbisik kepada generasi muda,” ujarnya.
Tim penulis UPTD SDN Palsatu terdiri dari Belmira S. F. Santos, M.Pd., Gr., Thince A. Anone, S.Pd., Gr., Bibiana A. F. Woda, S.Pd., Nora F. Ballo, S.Pd., Gr., Andri E. Letik, S.Pd., Gr., dan Eklianindi Y. Saekoko, S.Pd., Gr.
Keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam gerakan literasi ini, menjadi bukti komitmen Pemerintah Kota Kupang, untuk membangun ekosistem budaya dan pendidikan yang inklusif, memberdayakan gagasan warga, serta memperkuat peran komunitas dalam pembangunan daerah.
(AGN/ADV)



Tinggalkan Balasan