“Kalau orang bilang saya bisa duduk manis, itu karena masyarakat di Pasir Panjang sangat kompak dan partisipatif. Semua bergerak bersama, jadi tantangan apa pun bisa diatasi,” kata Robert sambil tersenyum bangga.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara kelurahan, RT/RW, karang taruna, dan masyarakat membuat anggaran bukan lagi menjadi kendala besar. Gotong royong menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan acara yang berlangsung lancar hingga puncak kegiatan.
Selain sebagai upaya pelestarian budaya, Festival Budaya Pasir Panjang 2025 juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat lintas generasi. Anak-anak, remaja, hingga warga lanjut usia turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, baik sebagai peserta lomba maupun panitia.
“Kami ingin seluruh warga merasa memiliki kegiatan ini. Dari sini juga kami bisa menemukan bibit-bibit muda berbakat di bidang seni dan budaya,” ujar Robert.
Ia menegaskan, kegiatan semacam ini bukan hanya memperkuat solidaritas sosial, tetapi juga mendukung visi Pemerintah Kota Kupang dalam membangun masyarakat yang kreatif, mandiri, dan berdaya saing.



Tinggalkan Balasan