Tahun ini, Festival Budaya Pasir Panjang mengangkat tema besar “Merajut Harmoni dalam Keberagaman Budaya Rote dan Timor”. Meski fokus utama menonjolkan dua etnis tersebut, festival tetap memberikan ruang bagi kelompok masyarakat dari Alor dan Sabu untuk turut mempersembahkan kesenian dan busana tradisional mereka.

“Kita diminta oleh Dinas Pariwisata Kota Kupang untuk menampilkan budaya yang dekat dengan masyarakat setempat. Tapi kami tetap memberi kesempatan bagi semua etnis untuk tampil sesuai identitas mereka. Itulah yang membuat festival ini hidup dan berwarna,” jelas Robert.

Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah Lomba Pakaian Tradisional Terbaik, di mana peserta dari berbagai RT/RW tampil dengan busana adat khas daerah masing-masing. Dewan juri kemudian menilai keaslian, kreativitas, dan keserasian kostum yang dikenakan.

Kesuksesan festival ini tidak terlepas dari peran aktif warga dan berbagai elemen masyarakat. Karang Taruna Bina Mandiri Pasir Panjang menjadi motor penggerak utama dengan menyiapkan seluruh kebutuhan teknis acara, mulai dari sound system, panggung, meja, hingga kursi secara swadaya.

“Kalau orang bilang saya bisa duduk manis, itu karena masyarakat di Pasir Panjang sangat kompak dan partisipatif. Semua bergerak bersama, jadi tantangan apa pun bisa diatasi,” kata Robert sambil tersenyum bangga.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara kelurahan, RT/RW, karang taruna, dan masyarakat membuat anggaran bukan lagi menjadi kendala besar. Gotong royong menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan acara yang berlangsung lancar hingga puncak kegiatan.

Selain sebagai upaya pelestarian budaya, Festival Budaya Pasir Panjang 2025 juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat lintas generasi. Anak-anak, remaja, hingga warga lanjut usia turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, baik sebagai peserta lomba maupun panitia.

“Kami ingin seluruh warga merasa memiliki kegiatan ini. Dari sini juga kami bisa menemukan bibit-bibit muda berbakat di bidang seni dan budaya,” ujar Robert.