“Melalui komunitas ini, program edukasi, sosialisasi, advokasi, serta koneksi lintas pemangku kepentingan terkait isu resistensi antimikroba dapat berjalan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan,” ujarnya.

Theresia juga menampilkan materi visual kampanye pengendalian AMR serta menyampaikan pentingnya rencana aksi yang konkret dan kolaboratif untuk mengatasi permasalahan tersebut di tingkat lokal hingga global.

Forum ICAHMedScience 2025 ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan pengambil kebijakan dari dalam dan luar negeri.

Topik utama yang diangkat berkisar pada tantangan global seperti zoonosis, resistensi antimikroba, inovasi farmasi, hingga integrasi kesehatan manusia dan hewan melalui pendekatan One Health.

Dalam sesi lainnya, dr. Florindo Cardosa Gomes, M.Biomed (AAM), M.A.R.S., M.H.Kes. dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Timorese Catholic University, juga memaparkan strategi Timor Leste dalam menghadapi ancaman wabah rabies.

“Sumber penularan rabies pada manusia berasal dari air liur anjing atau kucing. Virus ini bisa ada dalam air liur hewan selama tiga sampai empat hari sebelum gejala klinis muncul, dan tetap menular sepanjang perjalanan penyakit hingga kematian hewan tersebut,” jelas Florindo.