Menteri Wihaji juga mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang terus digencarkan di NTT dalam menurunkan angka stunting. Menurutnya, pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat sipil sangat penting untuk keberhasilan program.

“Stunting ini harus kita keroyok. Salah satu penyebab utamanya adalah faktor ekonomi. Alhamdulillah, ada investasi garam, bantuan dari Baznas, dan dukungan dari Bank Mandiri. Ini diharapkan mempercepat penurunan stunting. Pemerintah harus hadir bersama mitra,” jelas Wihaji.

Angka Stunting Masih di Atas Rata-Rata Nasional

Data Mei 2025 menunjukkan terdapat 1.843 balita stunting di Kabupaten Rote Ndao atau 16,6 persen. Sementara menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di kabupaten ini mencapai 32,4 persen, masih di atas rata-rata nasional yang berada di angka 19,8 persen.

Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, melaporkan bahwa dari total 19.890 keluarga yang telah diverifikasi pada tahun 2024, sebanyak 8.110 keluarga (40,77 persen) dikategorikan sebagai Keluarga Risiko Stunting (KRS).