Fokus utama penataan adalah menjaga nilai-nilai lokal, fungsi sosial gereja, serta keasrian alam di sekitarnya agar lingkungan gereja tidak hanya sakral, tetapi juga nyaman dan ramah bagi jemaat.

Rangkaian kegiatan dibagi menjadi empat sesi. Sesi pertama diawali dengan penyambutan adat oleh Natoni, tetua desa Fatuat, yang menandai penghormatan dan keramahan warga setempat. Setelah itu, moderator dari tim PkM, Debri A. Amabi, S.T., M.T., menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus menjelaskan tujuan kegiatan kepada para peserta.

Sesi kedua diisi dengan pemaparan materi oleh dua narasumber. Theodora Murni C. Tualaka, S.T., M.Arch. memaparkan konsep penataan lanskap yang didasarkan pada aktivitas jemaat dan potensi lingkungan setempat. Materi ini menekankan pentingnya ruang terbuka, ruang perantara, sirkulasi yang teratur, penzoningan kawasan, dan pelestarian elemen lanskap yang menjadi simbol kesakralan gereja.

Pemateri kedua, Thomas K. Dima, S.T., M.T., menyajikan visualisasi tata lanskap dalam bentuk 3D agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat dan panitia pembangunan.