Intensitas emisi skenario BAU pada tahun 2050 menunjukkan angka 348.471 ton CO2eq/triliun rupiah. Sedangkan pada skenario GGP intensitas emisi menunjukkan nilai yang jauh lebih rendah sebesar 107.534 ton CO2eq/triliun rupiah.

Sambil menjaga lingkungan hidup, strategi-strategi dalam GGP dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Skenario GGP berpeluang untuk membuka lapangan pekerjaan baru dan menambah jumlah serapan tenaga kerja.

Skenario GGP diproyeksikan akan meningkatkan serapan tenaga kerja dibandingkan skenario BAU. Hal ini disebabkan oleh dominasi sektor-sektor padat karya dari hilirisasi seperti industri pengolahan dari hilirisasi kopi, kelapa, kemiri, vanili, jambu mete, sapi dan perikanan.

PDRB NTT pada scenario BAU mengalami peningkatan sebesar 1,59% per tahun, sedangkan dalam skenario  GGP dengan asumsi peningkatan produktivitas dan perbaikan rantai nilai, PDRB dapat tumbuh sebesar rata-rata 6.76% per tahun.

Peningkatan produktivitas komoditas unggulan menjadi kunci pertumbuhan yang lebih tinggi dari sektor ekonomi terbarukan berbasis lahan.