Skenario Ekonomi Hijau

Strategi dan intervensi yang ditawarkan dalam GGP diproyeksikan menghasilkan skenario yang lebih baik daripada business as usual (BAU), yaitu bila pembangunan berjalan seperti biasa. Dalam skenario GGP, perekonomian tetap tumbuh sementara laju deforestasi dan emisi berkurang.

GGP diharapkan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca dari alih guna lahan dibandingkan skenario BAU. Pada skenario GGP diproyesikan adanya penurunan emisi bersih hingga 70% dibandingkan BAU di tahun 2050. GGP juga mampu menurunkan intensitas emisi — semakin rendah intensitas emisi, semakin berkurang juga kerugian lingkungan yang timbul akibat pertumbuhan ekonomi.

Intensitas emisi skenario BAU pada tahun 2050 menunjukkan angka 348.471 ton CO2eq/triliun rupiah. Sedangkan pada skenario GGP intensitas emisi menunjukkan nilai yang jauh lebih rendah sebesar 107.534 ton CO2eq/triliun rupiah.

Sambil menjaga lingkungan hidup, strategi-strategi dalam GGP dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Skenario GGP berpeluang untuk membuka lapangan pekerjaan baru dan menambah jumlah serapan tenaga kerja.

Skenario GGP diproyeksikan akan meningkatkan serapan tenaga kerja dibandingkan skenario BAU. Hal ini disebabkan oleh dominasi sektor-sektor padat karya dari hilirisasi seperti industri pengolahan dari hilirisasi kopi, kelapa, kemiri, vanili, jambu mete, sapi dan perikanan.

PDRB NTT pada scenario BAU mengalami peningkatan sebesar 1,59% per tahun, sedangkan dalam skenario  GGP dengan asumsi peningkatan produktivitas dan perbaikan rantai nilai, PDRB dapat tumbuh sebesar rata-rata 6.76% per tahun.

Peningkatan produktivitas komoditas unggulan menjadi kunci pertumbuhan yang lebih tinggi dari sektor ekonomi terbarukan berbasis lahan.

Arga Pandiwijaya dari ICRAF Indonesia mengatakan, GGP NTT dapat menjadi panduan strategis untuk pembangunan yang lebih terarah dan berkelanjutan. Sebagai dokumen perencanaan, GGP telah mencakup visi jangka panjang, sasaran yang ingin dicapai, skenario yang telah dirumuskan, serta strategi dan intervensi yang disusun berdasarkan analisis awal (ex-ante) terhadap indikator-indikator kinerja masa depan.