Ia mencontohkan bahwa di satu dapur MBG di Ngada saja, lebih dari 50 tenaga kerja dilibatkan. Selain itu, sekitar 90 orang petani dan pelaku UMKM turut mendapatkan penghasilan dari pasokan bahan pangan.

2035 Siswa Jadi Penerima Manfaat

Maria Yasinta Dhiu, Kepala SPPG Ngrdukelu, menjelaskan bahwa sejak mulai beroperasi pada 24 Februari 2025, pihaknya telah melayani 2.035 siswa dari empat sekolah: SDI Lebijaga, SMP Negeri 2, STM, dan SLB. SLB ditambahkan sebagai penerima manfaat setelah tim melihat kebutuhan besar dari siswa berkebutuhan khusus tersebut.

“Awalnya kami hanya melayani 1.966 siswa, namun kami tambah SLB karena mereka sangat membutuhkan. Ke depan, kami targetkan bisa menjangkau hingga 3.500 siswa,” jelas Maria.

Ia juga mengungkapkan tantangan utama adalah ketersediaan bahan baku seperti buah segar, yang pasokannya masih terbatas. Untuk itu, tim SPPG kerap mencari alternatif agar kebutuhan tetap terpenuhi.

Yayasan dan UMKM Dilibatkan

Rudi A. Wogi dari Yayasan Komunitas Inovasi Rumpun Bambu, yang bermitra dalam pengelolaan SPPG, menyoroti manfaat besar dari program ini. Menurutnya, dana program langsung mengalir ke petani, koperasi, dan UMKM.