“Sistem kelistrikan Lembata memiliki beban puncak sebesar 5,7 MW dengan daya mampu sekitar 6,5 MW, seluruhnya berasal dari PLTD. Ketergantungan pada BBM tentu memiliki risiko di masa mendatang, baik dari sisi pasokan maupun biaya operasional. Karena itu, PLTP Atadei menjadi solusi yang strategis untuk menyediakan energi bersih dan berkelanjutan bagi masyarakat Lembata,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pembangunan PLTP Atadei bukan hanya bagian dari proyek strategis nasional, tetapi juga investasi jangka panjang dalam ketahanan energi dan kesejahteraan masyarakat.

General Manager PLN UIP Nusra, Yasir, turut menyampaikan pentingnya sinergi dan komunikasi yang berkelanjutan dengan para pemangku kepentingan. Menurutnya, audiensi seperti ini menjadi jembatan untuk menyamakan persepsi dan memperkuat kepercayaan.

“PLN berkomitmen untuk terus membangun komunikasi terbuka dengan stakeholder, salah satunya melalui pertemuan-pertemuan seperti ini. Dengan adanya komunikasi yang intensif, seluruh pihak bisa memiliki pemahaman yang sama terkait arah pembangunan dan manfaat proyek bagi masyarakat,” ujar Yasir.

Ia juga menegaskan bahwa setiap kali terjadi pergantian pejabat daerah, PLN secara proaktif menjalin kembali komunikasi melalui audiensi dengan Forkopimda dan pimpinan daerah yang baru. Hal ini dilakukan agar pejabat yang baru dapat memahami progres pembangunan yang telah berjalan, serta mengetahui rencana ke depan secara utuh, sehingga sinergi tetap terjaga dan tujuan bersama dapat tercapai.

PLTP Atadei merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030. Proyek ini telah mengantongi berbagai perizinan penting, termasuk izin wilayah kerja panas bumi (WKP), izin prinsip pembangunan, izin kesesuaian tata ruang, konfirmasi kawasan hutan, hingga izin lingkungan.

Selain itu, proses Environmental and Social Impact Assessment (ESIA) juga telah dilakukan, mencakup tahapan screening, scoping, analisis laboratorium, dan penyusunan laporan hasil studi.