Jemadu menilai, depedensi atau ketergantungan masyarakat terhadap lembaga jasa keuangan sangat tinggi, terutama masyarakat perkotaan. Tidak lagi pada struktur agraris, tapi pada sektor jasa, terutama jasa keuangan.

Terkait laba Bank NTT yang dinilai terus menurun, Piet menilai Covid sangat berpengaruh terhadap bisnis sebuah lembaga perbankan di Indonesia.

“Faktor utama itu faktor krisis Covid dan pasca Covid. Sehingga bank harus survive kembali dari persoalan kredit macet, terutama di sektor-sektor jasa keuangan. Karena pasca Covid banyak usaha jasa mati, seperti rental mobil, jasa salon, restoran, hotel-hotel, dan hiburan. Ini semua mengalami masalah kredit. Pasca Covid dia membutuhkan modal baru untuk survive dan bangkit kembali. Dan itu ada tantangannya,” tutur Piet Jemadu. 

Ia menyatakan, selain faktor Covid, ada juga faktor manajemen yang mempengaruhi penurunan laba, tetapi yang paling dominan adalah faktor krisis Covid dan pasca Covid.

“Saya rasa pemegang saham juga melakukan evaluasi setiap tahun. Pada saat kepemimpinan Viktor Laiskodat juga dievaluasi. Itu bagus. Hanya rumor dan isu tentang perbankan sangat sensitif. Kalau isu negatif terlalu banyak diberitakan, itu bank bisa terluka. Orang bilang bisa blooding. Tapi kondisi bank NTT masih profit dan feasible. Artinya bank belum merugi,” tegasnya.