“Jadi ini sangat fatal. Kalau Pemprov NTT salah menentukan kebijakan, maka Bank NTT yang menjadi bank kebanggaan masyarakat tidak ada apa-apanya,” jelas James menambahkan.

Menurut dia, nilai plus yang didapat Bank NTT dalam jangka pendek adalah bisa memenuhi syarat OJK, yaitu memenuhi modal inti minimum sebesar Rp3 triliun.

“Sedangkan nilai untungnya, ketika sudah masuk dalam pola KUB bersama Bank DKI, maka dengan sendirinya Bank NTT juga akan melonjak. Karena yang menjadi pendamping ini adalah Bank DKI yang sudah ada di level paling atas dari Bank NTT,” ungkapnya.

Selain itu, jaringan kerja dari Bank NTT juga semakin luas, sehingga tidak ada kerugian apapun dari pola atau skema kerjasama KUB dengan Bank DKI. “Tidak ada minus dengan KUB ini. Yang ada kita dapat nilai plus dobel. Jadi pola KUB kalau diterapkan justru membawa keuntungan besar bagi Bank NTT, dimana status bank tertolong, dan dalam jangka panjang bank ini lebih maju,” ungkapnya.

Meski demikian, James menyebut Penjabat Gubernur NTT, Ody Kalake  Ayodhia Kalake pasti memiliki kebijakan yang objektif dalam tanda kutip, bahwa dia tidak melihat jangka pendek hingga bulan Desember 2024.

“Tetapi, kita saat ini dikejar waktu. Karena setelah persetujuan KUB kan masih ada proses lagi. Bukan selesai disitu. Mudah-mudahan OJK melihat kondisi dan fakta yang terjadi di lapangan, dan ada semacam keringanan atau kebijakan lain yang dibuat OJK,” ungkapnya.

“Misalnya mungkin ada Rp200 atau Rp300 miliar disetor dulu. Tetapi kalau OJK berpegang teguh pada regulasi, maka akan menjadi susah dan rumit. Satu-satunya yang bisa menolong adalah surat pernyataan persetujuan dari PSP,” tambah James.

Dia juga memberikan saran kepada para penasihat yang memberikan pertimbangan kepada Penjabat Gubernur NTT,  Ody Kalake.

“Penjabat ini kan bukan orang ekonomi, bisnis maupun perbankan. Jadi dia harus diberikan pandangan yang rasional dan objektif. Pertama yang harus diingat bahwa bank ini milik rakyat NTT,” terangnya.

James menegaskan, sebagai orang NTT, harus membuat kebijakan jangka pendek untuk menolong Bank NTT untuk bisa hidup 40 hingga 50 tahun lagi kedepan. “Jadi jangan bikin kebijakan yang salah dan tidak tepat. Kasihan ini bank. Karana itu saya saran Pak Ody Kalake untuk berikan kebijakan objektif dan rasional,” ujarnya.