Penekanan yang sama juga disampaikan anggota Komunitas Dialektika Kota Kupang, Damasus Lodolaleng.

Dia menegaskan, mesti ada pola politik yang berbeda di Kota Kupang dalam Pilwalkot tahun 2024 ini.

“Ruang ruang politik, forum diskusi dan lainnya harus muncul warna baru dan berbeda,” kata Damas.

Sementara itu, Bhildad Thonak terkait dorongan dari para anggota Komunitas Dialektika Kota Kupang. Dia pun menyambut baik usulan itu.

Akan tetapi, menurutnya, semua akan sangat tergantung pada masyarakat Kota Kupang.

“Saya pribadi bersyukur jika ada yang mendukung. Tapi semuanya kembali ke masyarakat,” kata dia singkat.

Sekadar informasi, Komunitas Dialektika Kota Kupang dibentuk pada tahun 2014.

Komunitas ini memiliki puluhan anggota dari latar belakang kampus berbeda.

Mereka rutin berdiskusi bulanan untuk membedah berbagai masalah sosial politik di Kota Kupang. (*/KN)