Misalnya, kisah Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan roh jahat di wilayah Gadara (Markus 5:1-20). Yesus mengusir roh jahat yang menyiksa orang tersebut, mengembalikan kesehatan mental dan emosionalnya.
Kasus lain, ketika Yesus menghibur Marta dan Maria yang sedih karena kematian saudara mereka, Lazarus (Yohanes 11:1-44). Yesus menunjukkan belas kasihan dan empati, serta memberikan harapan dengan menghidupkan kembali Lazarus.

Lain ladi, Yesus mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan roh. Ia sering menyampaikan pesan yang menggugah pikiran dan hati orang-orang yang mendengarkan-Nya, seperti kisah tentang Bapa yang Pengasih (Lukas 15:11-32) dan kisah tentang orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37).

Catatan-catatan diatas sesungguhnya mengetuk sekaligus menggugah gereja agar tidak memandang kesehatan mental dan jalan bunuh diri di Kota Kupang sebagai sesuat yang tidak penting.

Gereja, harus dimulai dengan tindakan dan aksi yang nyata, melakukan pendekatan ke berbagai masyarkaat agar setidaknya, kebersamaan dan pengambilan jalan pintas mengakhiri hidup adalah hal yang tidak boleh. Minimal, sesuai dengan ajaran Yesus Kristus soal mencintai hidup.