Lain ladi, Yesus mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan roh. Ia sering menyampaikan pesan yang menggugah pikiran dan hati orang-orang yang mendengarkan-Nya, seperti kisah tentang Bapa yang Pengasih (Lukas 15:11-32) dan kisah tentang orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37).

Catatan-catatan diatas sesungguhnya mengetuk sekaligus menggugah gereja agar tidak memandang kesehatan mental dan jalan bunuh diri di Kota Kupang sebagai sesuat yang tidak penting.

Gereja, harus dimulai dengan tindakan dan aksi yang nyata, melakukan pendekatan ke berbagai masyarkaat agar setidaknya, kebersamaan dan pengambilan jalan pintas mengakhiri hidup adalah hal yang tidak boleh. Minimal, sesuai dengan ajaran Yesus Kristus soal mencintai hidup.

Dialog-dialog dalam gereja dan komunitas yang saling berkaitan harus segera dimulai.
Gereja harus mengambil peran sebagai sebuah lembaga yang hadir untuk menyembuhkan batin umatnya. Ini dilakukan dengan membuka ruang dialog yang serius dengan semua umat.

Memberikan penyadaran setiap kali pertemuan bahwa mengakhiri hidup dengan jalan pintas, menjaga kesehatan mental, dimulai dari keluarga adalah seuatu yang sangat penting.
“Manusia seperti apa yang diharapkan, tentunya yang berintegritas dan itu hanya mungkin dibina melalui pendidikan.” (Penulis: Emanuel Terong Krova – Fransiscus Go, Media Indonesia 9 Mei 2023).