Diduga Mabuk Miras, Sekelompok Orang Serang Satu Keluarga di Poco Leok

Korban melapor ke Polisi. (Foto: Yhono Hande)

Ruteng, KN – Satu keluarga warga desa Lungar, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi korban penyerangan oleh sekelompok orang dari desa Lungar dan Mocok yang diduga mabuk Miras (minuman keras). Akibat penyerang dari sekelompok orang ini, beberapa seng rumah dilaporkan roboh. Selasa (17/10/2023).

Terduga pelaku penyerangan terhadap korban Wilhelmus Tambur dan Kasianus Pan tersebut berinisial KJ, HA, EJ merupakan warga desa Lungar. Sementara FD, NJ, YK, AS, FJ, YG, HA, VA, S warag kampung Tere, desa Mocok, kecamatan Satar Mese, kabupaten Manggarai, NTT.

Kasianus Pan mengatakan, rumah milik Wilhelmus Tambur (adiknya) didatangi sekitar 11 orang yang melakukan penyerangan pada Minggu, (15/10/2023) sekira pukul 18.00 Wita

“KJ dan teman-temannya datang mondar-mandir di depan rumah saya. Kebetulan rumah saya dan adik saya berdekatan. Dan saya tahu mereka sedang memantau dan kami sekeluarga bahkan menjadi targetnya adalah saya, kemudian saya sempat debat mereka. Yang jelas kronologinya mereka diduga mabuk miras,” ungkapnya kepada wartawan di halaman Polsek Satar Mese.

Saat posisi berdebat kata dia, beberapa teman KJ di lokasi tersebut sedang memukul tiang listrik yang diduga sebagai kode untuk mendatangkan teman-teman lainnya dari kampung Tere.

“Setelah itu warga dari kampung Tere datang ke Lungar, mereka langsung merapat ke rumah kami dan bertemu KJ untuk serobot rumah adik saya Wilhelmus Tambur,” kata Kasianus.

Di rumah Wilhelmus diketahui tengah berlangsung acara pesta syukuran Komuni Suci Pertama atau biasa disebut ‘Pesta Sambut Baru’.

KJ dan warga Lungar lainnya juga warga Tere pun langsung menyerang rumah Wilhelmus Tambur.

“Kami sedang acara sambut baru di rumah adik saya. Mereka datang mengamuk setelah itu melempar rumah adik saya karena tahu kalau kami sekeluarga ada di dalam rumah adik saya,” ujarnya.

BACA JUGA:  Bank NTT Terapkan 3 Strategi Cerdas, Tangkal Ancaman Krisis Pangan Dunia

Pasca kejadian itu, istri dan anak-anak pun menangis histeris lantaran panik hingga meminta berteriak guna meminta pertolongan.

“Istri dan anak-anak kami menangis ketakutan karena ulah KJ dan kawan-kawan,” tambahnya.

Karena tidak bisa masuk ke dalam rumah Wilhelmus Tambur, mereka pun melempar rumah dan menendang jendela rumah.

“Mereka tidak bisa masuk karena saya menghadang di depan pintu rumah adik saya. Karena tidak masuk mereka menendang jendela dan melempar rumah adik saya,” cetusnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, anehnya KJ dan teman-temannya datang hanya menyerang padahal dalam hajatan syukuran itu mereka tak di undang.

kendati demikian, usai peristiwa brutal itu lanjut dia, KJ dan kawan-kawan langsung mendatangi rumah RT di desa Lungar.

“Setelah kejadian penyerangan Kampianus dan kawan-kawannya, saya bingung kenapa RT desa Lungar memanggil saya. Padahal situasinya sangat panas sekali. Saya tidak mengahadap ke rumah RT pak, karena saya tahu KJ dan kawan-kawannya berada di rumah RT,” tandasnya.

Karena tidak ikut mengahadap RT, Kasianus pun diminta ketua RT desa Lungar agar bisa ke rumahnya pada pagi hari (16/10).

Tetapi Kasianus Pan menapik untuk memilih dan melaporkan peristiwa penyerangan yang menimpanya bersama keluarga ke Polisi melalui Polsek Satar Mese.

“Saya tidak mengetahui untuk apa mereka memanggil saya. Saya takut untuk keluar malam. Pada pagi hari mereka memanggil saya ke rumah RT, tapi saya lebih memilih ke Polsek Satar Mese untuk melaporkan pengeroyokan dan pengrusakan rumah adik saya,” pungkasnya.

Kendati begitu, Kasianus berharap agar pihak kepolisian untuk segera mengambil tindakan atas laporan yang menimpa keluarga besarnya dan meminta kepolisian untuk segera menyelidiki terduga pelaku guna diproses sesuai hukum yang berlaku.**