“Namun, optimismes haruslah tetap dibangun, bahwa dengan kekuatan IPTEK yang didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman akan pandemik sebelumnya (Covid-19) kita akan lebih siap dalam mencegah kejadian ataupun lebih tanggap dan sigap dalam penanganan dan pengendalian pandemik baru,” jelasnya.

Ia mendorong perlu adanya peran aktif dari semua pihak terkait dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai pentingnya mikrobiologi veteriner. Selain itu, pengembangan teknologi dan inovasi di bidang mikrobiologi veteriner juga sangat dibutuhkan untuk mengatasi kelemahan dalam penanganan penyakit emerging pada hewan di Indonesia.

Dalam hal ini, kolaborasi antara institusi pendidikan, industri, dan pemerintah menjadi sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan teknologi dan inovasi. Berbagai upaya telah dilakukan dalam pencegahan, penanganan, dan pengendalian penyakit emerging pada hewan di Indonesia dengan memanfaatkan pengetahuan mikrobiologi veteriner.

“Meskipun demikian, masih terdapat beberapa kelemahan yang perlu diatasi seperti kurangnya sumber daya dan peralatan yang memadai. Oleh karena itu, diperlukan strategi penanganan yang terintegrasi dan kolaboratif antara berbagai pihak terkait, seperti peternak, tenaga kesehatan hewan, dokter hewan, ahli mikrobiologi, masyarakat, pemerintah, LSM, dunia usaha, dan pekerja media. Dengan demikian, diharapkan dapat meminimalisir dampak dari penyakit emerging pada hewan dan memperkuat sistem kesehatan hewan di Indonesia,” tandasnya. (Biro Adpim/KN)