Tak hentinya dia meminta kepada semua untuk jangan dulu menarik kesimpulan dari sebuah dinamika, melainkan mengkajinya berkali-kali agar mendapat kesimpulan yang tepat. “Makanya saya tekankan lagi mari kita kaji ini secara menyeluruh. Jangan sampai karena laba turun langsung salahkan, oh ini kerja tidak betul. Kadang situasi ekonomi moneter juga berpengaruh pada laba. Tidak ada orang yang mau mendirikan bank lalu membuat bank itu kolaps,”tegasnya.
Bahkan dia pun masih menyayangkan jika dinamika ini ditarik ke anah politik.
“Kasihan Bank NTT-nya. Kalau ada muatan politisnya. Jangan sampai karena kita mau usir tikus dari rumah, tapi lumbungnya yang dibakar. Mari bersama-sama kita menjaga reputasi bank ini. Kita boleh saja tidak suka dengan oknum tapi jangan banknya yang dirusak. Bank ini perlu dijaga. Bagi orang yang bijaksana, ketika ada kesalahan, atau misscomunikasi, dibicarakan dulu di internal, sehingga rumah besarnya dijaga. Karena ada banyak orang yang hidup dan bertumbuh di bank ini. Kalau saya tidak suka sama oknum, atau siapapun, mari kita debat, dibedah regulasinya, dan jangan banknya yang dirusak. Karena kita pernah hidup dan dinafkahi disana. Jangan rusak rumah besarnya, kan kasihan,”pungkasnya. (Humas Bank NTT)





Tinggalkan Balasan