Apalagi ada informasi yang didengarnya bahwa penyebab turunnya laba karena tingginya Cadangan Penurunan Kerugian Nilai (CPKN) sebagai akibat dari kredit yang bermasalah. Juga karena ada beberapa kredit yang diberlakukan saat ini seperti kredit mikro Merdeka, yang mana kredit ini disalurkan tanpa agunan.
“Bisa juga itu, dan cadangan ini dimaksudkan untuk mengantisipasi jika ada kredit macet. Mari kita telaah dulu dan jangan memvonis seolah-olah sudah gagal semua. Ditelusuri lagi, kemacetan tertinggi itu ada di masa jabatan direksi yang mana dan apa penyebabnya,”ungkap Wem sambil menambahkan bahwa yang lebih memahami persoalan ini adalah OJK dan BPK.
“Merekalah yang melakukan kajian lalu membuat opini. Dan sejauh ini mereka bekerja secara profesional. OJK dan BPK saja tidak permasalahkan kok kita seolah-olah ada masalah. Mereka sebagai regulator, dan diberi kewenangan oleh negara sehingga selalu mengikuti perkembangan bank ini. Bahkan saya dapat informasi bahwa OJK melakukan kajian berkala setiap bulan terhadap Bank NTT. Ada kemajuan atau tidak. Contohnya, dulu NPL sewaktu Dirut (Harry Alexander Riwu Kaho) baru terima jabatan ini, dengan NPL yang tinggi yakni hampir 5 persen namun sekarang sudah turun jadi 2 persen, ini tentu bagus,”tegas Wem lagi.





Tinggalkan Balasan