“Jagung Bose, Ubi Nuabosi, dan Daun Ubi yang menjadi bahan konsumsi masyarakat NTT, sebenarnya menjadi kekayaan alam yang selama ini diabaikan. Kerena kita terlena pada subtitusi modernisasi dari industri pangan yang ada,” ungkap Alex Riwu Kaho. 

Ia menambahkan Bank NTT sebagai agent of development, terus menciptakan skim-skim kredit yang memudahkan, untuk mendorong petani dan pelaku usaha di bidang ketahanan pangan, menjadi bagian dari revitalisasi dan refocusing Bank NTT.

“Bank NTT terus memudahkan, meringankan, dan mempercepat pembiayaan-pembiayaan yang menopang sektor-sektor ekonomi, termasuk ketahanan pangan, pertanian, perkebunan dan perikanan serta kelautan,” tandas Alex Riwu Kaho.

Sementara itu, guru besar Universitas Nusa Cendana Kupang, Prof. Fred Benu pada kesempatan yang sama, mendorong masyarakat untuk segera memanfaatkan skim-skim kredit yang ditawarkan oleh Bank NTT.

Menurutnya, skim kredit seperti Kredit Merdeka Bank NTT sangat murah dan mudah untuk dimanfaatkan oleh masyarakat, karena skim Kredit Merdeka bisa diakses tanpa agunan dan tanpa bunga.