Dijelaskan Dirut, bahwa saat ini Bank NTT telah berkolaborasi dengan semua pihak, untuk mengantisipasi berbagai kondisi dan tantangan, termasuk ancaman krisis pangan dunia.

Pihaknya menemukan, bahwa ada sejumlah potensi dan kantong-kantong ketahanan pangan di desa, yang membutuhkan reengineering dan penguatan.

Dirut Alex Riwu Kaho menegaskan, NTT punya potensi lahan dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bisa dikembangkan, untuk mengurangi ketergantungan suplai pangan dari daerah lain.

Namun terdapat sejumlah keterbatasan yang harus diatasi seperti persoalan infrastruktur, skill (kemampuan) dan knowledge (pengetahuan). Keterbatasan ini diperparah dengan akses perbankan atau lembaga keuangan yang masih jauh dari jangkauan masyarakat.

“Oleh karena itu, refocusing dan revitalisasi yang dilakukan oleh Bank NTT adalah, harus ada di desa dan bersama semua pihak melakukan reengineering ketahanan pangan,” jelasnya.

Dirut berharap upaya reengineering, refocusing dan revitalisasi yang dilakukan oleh Bank NTT, bisa mendukung pemerintah dalam mengantisipasi krisis pangan dunia.